Install theme

[Color=#66ccff]“Aku minta maaf.”[/color]

Cathy tidak mengindahkan satu kata atau bahkan satu huruf-pun yang dikeluarkan oleh sosok lelaki seasramanya yang kini duduk tepat didepannya. Perempuan ini lebih memilih untuk kembali melanjutkan tindakannya detik sebelumnya, mengompres memar di kakinya dengan guna mengurangi bengkaknya.

[Color=#66ccff]“Aku tidak bermaksud menyakitimu, Catherine. Sungguh, Aku hanya mau menangkap Snitch-ku, lalu kau muncul, dan… yah, begitulah. I’m so sorry.”[/color]

Mendengus pelan. Cathy masih masih belum berniat menjawab kalimat yang dikeluarkan pemuda dihadapannya. Didalam rongga pikirannya masih berputar peristiwa menit-menit sebelumnya yang pada akhirnya membuat kedua pipinya semakin lama semakin memerah. Bagaimana tidak, ia malu sekali dengan adegan kecil antara dirinya dan pemuda itu. Dan jujur saja, pikirannya tidak dapat melupakannya dengan semudah membalikkan kedua telapak tangan.

Cathy menggigit bibir bawahnya. Ia baru akan menyahut tanggapan atas permintaan maaf dari sang pemuda saat ia melihat lelaki muda itu mendekati dirinya.

[Color=#66ccff]“Bolehkah aku? Aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam,”[/color]

Sebuah jaket dibuka dan disampirkan tepat dipangkuan Cathy. Membuat gadis itu layaknya mengenakan sebuah rok panjang hingga ke pergelangan kakinya. Handuk basah yang dari tadi ia gunakan untuk mengompres-pun terlepas dari genggaman tangan Cathy dan berpindah tangan ke lelaki muda itu.

[Color=#66ccff]“Biar aku saja yang mengompresnya, Dan aku tidak akan mengintip, kau tahu—kalau kau masih tidak mempercayaiku.”[/color]

“Aku bisa—” [I]Apa? Bisa melakukannya sendiri?[/i] Namun kalimat yang hendak diucapkan oleh Cathy tanpa sadar kembali tertelan dari dalam mulutnya. Ia membiarkan pemuda itu mengambil handuk yang ia genggam dan membiarkan pergelangkan kakinya dikompres oleh benda itu. Karena biar bagaimanapun, pemuda ini telah memberikan permintaan maafnya pada Cathy, masa ia tidak memaafkannya?

Detik demi detik berlangsung dalam diam. Cathy masih belum mengucapkan sepatah katapun dan waktu terasa bergulir begitu lambat. “Kurasa, permintaan maafmu sudah cukup, Josh. Kau tidak perlu membantu mengompres kakiku. Biar aku saja yang melakukannya.” Cathy mengambil handuk yang berada di tangan sang pemuda. “Maafkan aku telah menamparmu, sakitkah?” Tangan kanan Cathy terulur tanpa sadar ketempat tamparan tangannya mendarat dan menyentuhnya pelan. “I’m so sorry.”

See more
Posted at 10:36 PM 09 July 2010
Bookmark and Share